Friday, October 7, 2022
spot_img
HomeBeritaCandi Badut, Wisata Viral Nan Unik Di Malang

Candi Badut, Wisata Viral Nan Unik Di Malang

Salam Satu JiwaMalang, Candi Badut atau Badhut merupakan suatu candi yang terletak di kawasan Tidar, di bagian barat kota Malang. Secara administratif candi badut terletak di kelurahan Karang Besuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang, Jawa Timur. Posisi candi ini terletak di dekat Universitas Ma Chung, dekat 15 menit berjalan kaki dari situ ke arah Timur. Posisi ini pula bisa ditempuh dengan angkot jurusan AT, halte Arjosari-Tidar.

Tidak seperti arsitektur candi Jawa Timur yang lain seperti Candi Singasari ataupun Candi Kidal, candi ini menjajaki arsitektur yang lebih tua di Jawa Tengah. Diperkirakan dibentuk pada 760 Meter, oleh sebab itu dikira selaku yang tertua di Jawa Timur.

Kata Badut diprediksi berasal dari bahasa Sanskerta Bha-dyut yang berarti sorot Bintang Canopus ataupun Sorot Agastya.

Sejarah Candi Badut

Candi Badut oleh Purbatjaraka berhubungan dengan suatu prasasti yang di temukan di kelurahan Merjosari, adalah prasasti Dinoyo. Prasasti berbahasa sanskerta serta berhuruf Jawa kuno itu berangka tahun Candrasangkala: nayana vayu ras yang memiliki makna angka tahun saka 682 ataupun 760 Masehi. isi prasasti yang menggambarkan raja Gajayana dari Kerajaan Kanjuruhan.

Candi Badut menghadap ke barat, 3 buah sisa_sisa candi perwara dihadapannya serta dahulunya di kelilingi oleh pagar tembok. Candi berdenah bujur sangkar dengan dimensi 11×11 m itu tidak dikenal tingginya. Keistimewaan candi Badut merupakan lapik setinggi 2 m tanpa hiasan sama sekali.

Candi ini ditemukan pada tahun 1921 berbentuk gundukan bukit batu, reruntuhan serta tanah. Orang awal yang memberitakan keberadaan Candi Badut merupakan Maureen Brecher, seseorang kontrolir bangsa Belanda yang bekerja di Malang. Candi Badut dipugar kembali pada tahun 1925-1927 di dasar pengawasan B.De Haan dari Jawatan Purbakala Hindia Belanda. Dari hasil penggalian yang dicoba pada dikala itu dikenal kalau bangunan candi sudah runtuh sama sekali, kecuali bagian kaki yang masih bisa dilihat susunannya.

Sejarah Candi Badut

Penemuan Candi Badut

Candi Badut ditemukan oleh ahli arkeologi di tahun 1923. Candi yang pula diucap Candi Liswa ini berlokasi kurang lebih 5 kilometer dari kota Malang, tepatnya di Desa Karangbesuki, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Candi Badut diprediksi diperkirakan dibentuk jauh saat sebelum masa pemerintahan Airlangga, adalah era dimulainya pembangunan candi-candi lain di Jawa Timur, serta diprediksi adalah candi tertua di Jawa Timur.

Sebagian pakar purbakala berkomentar kalau Candi Badut dibentuk atas perintah Raja Gajayana dari Kerajaan Kanjuruhan. Dalam Prasasti Dinoyo (tahun 682 Caka ataupun 760 Meter), yang ditemukan di Desa Merjosari, Malang, dipaparkan kalau pusat Kerajaan Kanjuruhan merupakan di wilayah Dinoyo.

Candi Badut Dari sudut utara-timur

Prasasti Dinoyo sendiri dikala ini tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Tulisan dalam prasasti pula menggambarkan tentang masa pemerintahan Raja Dewasimba serta putranya, Si Liswa, yang adalah masa keemasan Kerajaan Kanjuruhan. Kedua raja tersebut sangat adil serta bijaksana dan dicintai rakyatnya. Konon Si Liswa yang bergelar Raja Gajayana yang sangat bahagia melucu (bahasa Jawa: mbadhut) sehingga candi yang dibentuk atas perintahnya dinamakan Candi Badut. Meski ada dugaan seperti itu, hingga dikala ini belum ditemukan fakta kokoh keterkaitan Candi Badut dengan Raja Gajayana.

Pintu masuk ke tubuh candi 

Keunikan Candi Badut

Tidak hanya umurnya yang diprediksi jauh lebih tua, didasarkan pada keterkaitannya dengan Kerajaan Kanjuruhan, ada karakteristik khas lain yang membedakan Candi Badut dari candi lain di Jawa Timur, adalah pahatan kalamakara yang menghiasi ambang pintunya. Pada biasanya relief kepala raksasa yang ada di candi-candi Jawa Timur terbuat lengkap dengan rahang dasar, tetapi kalamakara yang ada di Candi Badut terbuat tanpa rahang dasar, mirip dengan yang mengalami pada candi-candi di Jawa tengah. Badan Candi Badut yang tambun pula lebih mirip dengan candi di Jawa Tengah. Candi ini pula mempunyai kemiripan dengan Candi Dieng (di Jawa Tengah) dalam perihal wujud dan reliefnya yang simetris. Candi Badut diyakini selaku candi Syiwa, meski hingga dikala ini belum ditemukan patung Agastya di dalamnya.

Bangunan yang dibuat dari batu andesit ini berdiri di atas batur setinggi dekat 2 meter. Batu ini sangat simpel, tanpa hiasan relief, membentuk selasar selebar dekat 1 meter di sekitar badan candi. Di sisi kanan bagian depan batur ada pahatan tulisan Jawa (hanacaraka) yang tidak jelas waktu pembuatannya.

Tangga mengarah selasar di kaki candi terletak di sisi barat, pas di hadapan pintu masuk ke ruang utama di badan candi. Pada bagian luar bilik pengapit tangga ada ukiran yang telah tidak utuh lagi, tetapi masih nampak adanya pola sulur-sulur yang mengelilingi wujud orang yang lagi meniup seruling. Jalur masuk ke garba grha (ruang dalam badan candi) dilengkapi dengan dinding penampil selama dekat 1, 5 meter. Pintu masuk lumayan lebar dengan hiasan kalamakara di atas ambang pintu.

Permukaan kaki Candi Badut lebih luas dibandingkan tubuh candi

Dalam badan candi ada ruangan seluas dekat 5, 53 x 3, 67 meter2. Di tengah ruangan tersebut ada lingga serta yoni, yang adalah lambang kesuburan untuk. Pada bilik di sekitar ruangan ada relung-relung kecil yang nyatanya semula berisi patung.

Bilik candi dihiasi dengan relief burung berkepala manusia serta peniup seruling. Di keempat sisi badan candi pula ada relung-relung berhiaskan bunga serta burung berkepala manusia. Di bilik luar sisi utara badan candi ada patung Durga Mahisasuramardini yang nampak telah rusak.

Di sisi selatan sepatutnya ada patung Syiwa Guru serta di sisi timur sepatutnya ada patung Ganesha. Keduanya telah tidak terdapat lagi di tempatnya.

Prasasti Patung Candi Badut

Candi ini sempat dipugar di tahun 1925–1926, hendak namun banyak bagian yang telah lenyap ataupun belum bisa dikembalikan ke wujud asalnya. Atap bangunan utama, misalnya, dikala ini telah tidak terdapat di tempatnya. Cuma pelipit di selama tepi atas bilik yang masih tersisa.

Di bagian barat pelataran, adalah di sisi kiri serta kanan taman depan bangunan candi yang yang telah dipugar, ada fondasi bangunan lain yang masih belum dipugar. Masih banyak onggokan batu di sekitar pelataran candi yang belum bisa di kembalikan ke tempatnya semula.

Para pakar menyatakan jika candi Badut adalah peralihan style bangunan Klasik dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Pada ruangan induk candi yang berisi lingga serta yoni, simbol Siwa serta Parwati. Sebagaimana biasanya percandian Hindu di Jawa, pada bagian bilik luar ada relung-relung yang semestinya berisi patung. 2 relung di kanan serta kiri pintu mestinya berisi patung Mahakala serta Nandiswara, relung utara buat patung Durga Mahisasuramardini, relung timur buat patung Ganesha, serta di sisi selatan ada relung buat patung Agastya merupakan Siwa yang merupakan Mahaguru. Tetapi di antara seluruh patung itu cuma patung Durga Mahisasuramardini yang tersisa di candi Badut.

Candi ini diperkirakan berumur lebih dari 1400 tahun, yang merupakan candi tertua di Jawa Timur serta diyakini merupakan aset Prabu Gajayana, penguasa kerajaan Kanjuruhan sebagaimana yang termaktub dalam prasasti Dinoyo bertahun 760 Masehi. Candi Badut ini meninggalkan jejak purbakala selaku aset sejarah yang butuh di jaga serta dilestarikan keadaannya.

Keunikan Khusus Candi Badut

Selain menjadi candi tertua dari candi-candi lainnya di Jawa Timur, Candi Badut yang merupakan candi bercorak Hindu peninggalan Kerajaan Kanjuruhan juga memiliki keunikan khusus atau ciri khas tersendiri. Dikutip dari laman resmi Perpustakaan Nasional RI, salah satu keunikan Candi Badut adalah terdapat pahatan Kalamakara di ambang pintunya. Kalamakara berupa kepala dan wajah raksasa yang biasanya ditempatkan di pintu masuk candi dengan tujuan untuk mengusir roh-roh jahat. Relief kepala raksasa yang terdapat di candi-candi Jawa Timur pada umumnya dibuat lengkap dengan rahang bawah. Namun, Kalamakara yang terdapat di Candi Badut berwujud tanpa rahang bawah, mirip dengan Kalamakara yang terdapat pada candi-candi di Jawa tengah.

Kanjuruhan dan Mataram Kuno

Jika merujuk kemiripannya dengan Candi Dieng, Candi Badut diduga kuat masih terpengaruh candi-candi khas peninggalan Kerajaan Medang atau Kerajaan Mataram Kuno. Kerajaan yang eksis sejak abad ke-8 Masehi ini memiliki dua periode, yakni periode Jawa Tengah dan periode Jawa Timur. Semula, Kerajaan Medang berpusat di Bhumi Mataram atau Yogyakarta, kemudian sempat pindah ke wilayah Kedu, dekat Magelang, Jawa Tengah, di bawah pemerintahan Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra yang memang dikenal gemar membangun candi-candi. Pada 929 Masehi, Kerajaan Medang atau Mataram Kuno dipindahkan ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok yang mengawali periode baru dengan Wangsa Isyana. Namun, bukan faktor perpindahan ini yang menjadi alasan mengapa Candi Badut mirip dengan candi-candi di Jawa Tengah.

Lokasi Candi Badut

  • Alamat : Jl. Raya Candi V No.5D, Doro, Karangwidoro, Kec. Dau, Kota Malang, Jawa Timur 65146
  • Provinsi : Jawa Timur
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

laginaik.com
kawulagaya.com
malangsport.com
giatekno.com

Recent Comments