Friday, October 7, 2022
spot_img
HomeBudayaAsal Mula Bahasa Walikan Malang, Sandi Khusus Saat Masa Penjajahan Belanda

Asal Mula Bahasa Walikan Malang, Sandi Khusus Saat Masa Penjajahan Belanda

Salam Satu JiwaMalang, Bahasa Jawa Malang ataupun biasa diucap Bahasa walikan (Osob Kiwalan) nyatanya telah terdapat semenjak era penjajahan Belanda. Bahasa Jawa walikan khas Malang ini dipakai para pejuang kemerdekaan Indonesia selaku Bahasa sandi dikala melawan agresi militer Belanda I serta II.

Asal mula Bahasa Walikan Malang itu dijadikan Bahasa sandi sebab dikala agresi militer Belanda I serta II, para pejuang tidak cuma mengalami tentara Belanda dengan perlengkapannya yang mutahir kala itu. Tetapi, pula dari masyarakat pribumi yang jadi teliksandi tentara Belanda ataupun yang diucap dengan para pengkhianat.

Pemerhati budaya serta sejarah Agung Buana berkata, aksi gerilya para pejuang ini umumnya terbongkar oleh informan ataupun spionase para pribumi, yang dapat berbicara dengan bahasa Indonesia apalagi bahasa Jawa sekalipun. Terlebih selaku data tentara Belanda serta sekutunya pula mengerahkan satuan prajurit KNIL, yang pula terdapat masyarakat Indonesia yang dipekerjakan oleh Belanda.

“Kala kita itu agresi militer awal serta kedua. 1947 serta 1949 itu masa-masa pelik, peliknya kala Belanda masuk ke Malang lagi nyatanya diiringi orang-orang jika dikatakan pengkhianat, orang-orang Indonesia tetapi yang membagikan data ke Belanda,” papar Agung Buana, ditemui MNC Portal.

Dari sanalah kesimpulannya para pejuang dari Malang ini memilah memakai bahasa walikan Malangan, yang sudah terdapat semenjak dulu yang umumnya digunakan nangkring masyarakat.

Perihal ini buat menjauhi spionase serta kebocoran data oleh para pengkhianat ini. Terlebih para spionase ini kendati masyarakat Jawa serta Indonesia, tidak paham makna bahasa walikan yang digunakan tiap hari berbicara masyarakat Malang asli.

“Para spionasenya Belanda, itu kan aktivitas spionase buat memandang gerak-gerik perlawanan orang Malang itu gimana. Ekspedisi pergerakan TRIP gimana, pergerakan brigadenya Imam Sujai gimana, mereka orang-orang kita yang ditelusupkan buat masuk data itu,” ucap laki-laki yang sempat berprofesi Sekretaris Regu Pakar Cagar Budaya (TACB) Kota Malang.

Dari sanalah diakui Agung, warga Malang mulai memakai bahasa walikan khas Malang selaku bahasa sandi dengan sesama orang Malang. Bahasa komunikasi ini buat menjauhi terdapatnya penyadapan serta pembocoran data dari para orang Indonesia, yang ikut jadi spionase Belanda.

“(Bahasa walikan) digunakan selaku perlengkapan komunikasi perjuangan orang Malang sendiri, orang Malang sendiri berbicara dengan orang Malang yang terletak di luar garis demarkasi ataupun garis batasan. Garis batasnya contohnya Kedungkandang, Kedungkandang Bululawang ke situ miliknya Republik Indonesia mari (di Kota Malang kepunyaan) Belanda, (wilayah) Sumbersari itu perbatasan, Singosari itu perbatasan, di perbatasan-perbatasan seperti itu bahasa walikan dipergunakan,” paparnya. Dari sekian pasukan pejuang yang sering membagikan perlawanan kepada Belanda.

Wujud pasukan Hamid Rusdi, yang sering memakai bahasa walikan selaku bahasa walikan buat sandi memuluskan perjuangan mengusir Belanda serta sekutunya dari Malang.

“Hamid Rusdi pimpinan pergerakan spesialnya tentara TRI (Tentara Rakyat Indonesia) yang pada dikala itu ia wajib hijrah di garis demarkasi, yang kala berbicara dengan orang kita (orang Indonesia) di mari (di Malang) kesusahan. Oleh sebab itu digunakan bahasa-bahasa itu, yang sangat banyak sahabat GRK (Gerilyawan Rakyat Kota), seluruhnya warga Malang mereka memakai komunikasi itu, supaya tidak dapat disadap didengarkan oleh spionase Belanda,” katanya.

Tetapi Agung menguraikan apabila, bahasa walikan khas Malang ini tidak digunakan dikala masa perjuangan saat sebelum kemerdekaan. Karena dikala itu jelas lawan yang dialami dibanding sehabis proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

“Jika buat perjuangan belum, ia baru timbul sandi-sandi itu kala masa bersiap mana kawan mana lawan, sehingga kita pakai bahasa sandi periode 1947-1949 periode keemasan bahasa walikan, sebab bahasa sandi komunikasi antar pejuang,” katanya.

Dirinya menarangkan kemunculan bahasa walikan tidak lepas dari Kerutinan cangkrukan ataupun nangkring untuk masyarakat Malang semenjak era dulu. Dari sanalah sebagian kosakata dibalikkan oleh masyarakat, semacam genaro yang berarti orang, silup yang maksudnya polisi, sampai kata sudew ataupun wedus.

Boso walikan ini karya budaya, karya budaya ciptaan manusia cipta serta karsa, itu jadi bagian dari proses dinamika orang Malang. Orang Malang memahami bahasa walikan selaku osob iwalan ataupun boso walikan, yang sudah terdapat semenjak lama. Bahasa walikan produk budaya kapan timbul, semenjak lama telah timbul. Sebab itu bahasa pergaulan tiap hari orang Malang, bahasa ngopi-ngopi cangkruk-cangkruk,” bebernya.

Kamus Boso Walik

Kenapa Boso Walikan Malang Tetap Eksis dan Makin Populer

Boso walikan ialah bukti diri serta karakteristik khas warga Malang. Walaupun demikian bahasa ini sanggup tumbuh dan tidak cuma digunakan di tempat asalnya tetapi pula dipakai di luar Malang.

Pemerhati budaya Malang, Agung Buana berkata boso walikan ini dapat tumbuh di luar Malang sebab terdapat beberapa aspek. Awal, sebab banyaknya orang Malang yang merantau.

Dari perantauan ini, lanjut Agung, orang-orang Malang nyatanya tidak meninggalkan karakteristik khas bahasa asalnya. Tidak cuma itu, bahasa yang dibawa pula sanggup menjajaki pertumbuhan era.

“Bahasa walikan jelas serta identik dengan orang Malang, sebab mereka yang menghasilkan serta memakai bahasa tersebut. Namun bersamaan pertumbuhan era, bahasa walikan menjajaki masa pada dikala itu,” ucap Agung pada (7/3/2022).

Agung menarangkan di masa tahun 1947 hingga dengan tahun 1949 bersama dengan Agresi Militer Belanda, bahasa walikan lahir serta digunakan selaku perlengkapan komunikasi ataupun bahasa sandi oleh gerilyawan Indonesia. Setelah itu dekat tahun 1950 hingga dengan akhir 1970-an, bahasa walikan malah populer di luar Malang.

Itu sebab, lanjut Agung, orang Malang banyak merantau ke luar kota buat mengadu nasib ataupun mencari pekerjaan. Bahasa walikan senantiasa terbawa serta jadi perlengkapan komunikasi sesama masyarakat Malang di perantauan. Sehingga setelah itu, orang luar Malang menguasai serta paham, bahasa walikan merupakan bahasa orang Malang.

“Tepatnya dimana, di Jakarta. Mengapa? sebab nyatanya banyak orang-orang Malang yang bekerja di Jakarta. Kala mereka di situ. Mereka sesama orang Malang, senantiasa memakai bahasa walikan selaku bahasa tiap hari,” jelasnya.

Sebaliknya aspek kedua, Agung menyebut mahasiswa dari bermacam wilayah di Malang ikut mempopulerkan boso walikan. Aspek ini pula yang membuat boso walikan terus menjadi dinamis dengan timbulnya kosakata-kosakata baru.

Boso Walik Dalam Bentuk Kaos

“Misalnya kata ayo, dari kata ayo. Kosakata itu dibalik jadi kuy. Kuy maksudnya ayo. Orang Malang yang kelahiran saat sebelum tahun 1980-an, hendak bilang tidak terdapat bahasa Malang ataupun walikan kuy itu. Tetapi untuk anak saat ini, anak luar kota yang kuliah di Malang, mereka memakai bahasa itu, supaya seolah dapat berbaur dengan orang Malang,” terangnya.

Agung setelah itu menyebut pernah terdapat keluhan terpaut timbulnya kosakata baru ini. Tetapi baginya perihal itu tidak harus dipertentangkan. Karena bahasa senantiasa menjajaki pertumbuhan era yang terdapat.

“Meski dalam ciri petik, pemakaian kata-katanya banyak yang tidak dimengerti oleh orang-orang dahulu, makanya hingga terdapat kritikan ke kita dikala ini, bahasa walikan kok, sesungguhnya itu jangan dipertentangkan, sebab itu bentuk suatu pertumbuhan. Suatu pertumbuhan bahasa yang memiliki dinamika cocok dengan pertumbuhan era,” tutur Agung.

Agung meningkatkan, pemakaian kosa kata bahasa walikan oleh kanak-kanak era saat ini memanglah jelas berbeda dengan awal-awal bahasa itu lahir serta dipergunakan. Tetapi, kanak-kanak muda dikala ini, memakai kosa kata itu cocok tipe mereka yang dimengerti oleh komunitasnya.

Karena bagi Agung, boso walikan ini jadi terkenal sebab memanglah tidak terdapat pakem formal. Sehingga tiap orang dapat membalik perkata cocok kemauan serta uraian mereka. Ini setelah itu diucap Agung selaku aspek terakhir boso walikan dapat senantiasa eksis.

“Maksudnya bahasa walikan tumbuh, sebab tidak memiliki pakem. Bahasa kan memanglah suatu produk budaya, tidak boleh statis. Namun dalam perkembangannya wajib dicatat ataupun didokumentasikan.

“Waktu itu tahun 2019, Pemkot Malang lewat Dinas Pariwisata serta Kebudayaan menyusun kamus bahasa walikan bersama jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya. Tujuannya buat apa? mendokumentasikan dan mencatat pertumbuhan bahasa walikan,” tandas Agus.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Most Popular

laginaik.com
kawulagaya.com
malangsport.com
giatekno.com

Recent Comments